Mungkin nggak ada kuda yang harganya melebihi kuda yang satu ini. Green Monkey. Green Monkey dianggap kuda paling mahal di dunia. Harga awal
adalah $16 juta. Green Monkey adalah nama yang diberikan pada kuda
balap berusia 2 tahun ini yang terjual pada acara Race Course Calder oleh Demi O’Byrne. Kuda ini adalah juara dua kali pada balapan kuda Derby Kentucky, namun setelah itu tidak pernah memenangkan perlombaan lagi, akhirnya Green Monkey secara resmi pensiun pada 12 Februari 2008.
Kepemilikan kuda ini ada pada Randy Hartley dan Dean De Renzo pada awalnya lalu menjualnya pada lelang Fasig-Tipton Calder tahun 2006. Hartley dan De Renzo membeli kembali kuda ini dengan bantuan seseorang pengusaha kuda John Magnier.
Thursday, April 11, 2013
Wednesday, April 10, 2013
Berkuda Sebagai Terapi Pengobatan Masalah Anak
Olahraga berkuda ternyata memiliki manfaat untuk metode penyembuhan
bagi berbagai masalah anak. Mulai dari masalah psikologis, mental,
emosional, lemah fisik, kemampuan berbahasa dan berbicara, bahkan
autisme.
“Menunggang kuda adalah kegiatan menyenangkan bagi banyak orang, tapi bagi anak yang memiliki keterbatasan, menunggang kuda bisa menjadi salah satu cara penyembuhan,” kata Lisa McCallum, terapis berkuda dari Sleepy Hollow Therapeutic Riding Centre dan South African Riding for the Disabled Association (Sarda).
Setiap tahun, banyak orang merasakan manfaat dari terapi menunggang kuda dan jumlahnya terus meningkat.
Dijelaskan McCallum, terapi biasa tidak berhasil karena kadang anak sudah antipasti terlebih dahulu terhadap kegiatan terapi. Sedangkan aktivitas berkuda, anak memandangnya sebagai kegiatan bermain yang menyenangkan. Sehingga mereka lebih rileks menjalaninya.
Berkuda bisa memotivasi anak yang memiliki masalah mental dan emosional, serta kendala dalam belajar. Kegiatan ini membantu mereka berkonsentrasi, sabar, dan disiplin tinggi.
Aktivitas berkuda membutuhkan kerjasama antara kuda dan penunggangnya. Saat belajar berkuda, akan tercipta ikatan emosi anak dengan kuda yang dikendarainya.
“Hubungan unik antara kuda dengan pengendaranya membantu mengatasi ketakutan. Justru akan tumbuh rasa saling percaya antara anak dengan kuda, hal inilah yang menjadi terapi emosi mereka,” ujar McCallum.
Untuk anak yang mengalami hambatan fisik, misalnya kaki lumpuh, berkuda adalah cara mereka menikmati kebebasan yang selama ini tidak bisa mereka dapatkan saat berada di atas kursi roda. Duduk di atas kuda juga akan melatih otot kaki mereka sehingga bisa berjalan.
“Saat menunggang kuda, otot-otot pada selangkangan anak akan merasakan sensasi seperti saat berjalan kaki. Hal itu akan mengaktifkan otot-otot kaki sehingga pelan-pelan si anak akan bisa berjalan,” kata McCallum. (aa/vvnws)
Sumber :http://www.voa-islam.net
“Menunggang kuda adalah kegiatan menyenangkan bagi banyak orang, tapi bagi anak yang memiliki keterbatasan, menunggang kuda bisa menjadi salah satu cara penyembuhan,” kata Lisa McCallum, terapis berkuda dari Sleepy Hollow Therapeutic Riding Centre dan South African Riding for the Disabled Association (Sarda).
Setiap tahun, banyak orang merasakan manfaat dari terapi menunggang kuda dan jumlahnya terus meningkat.
” Terapi berkuda memiliki tiga manfaat utama, yaitu olahraga, pendidikan dan pengobatan. Ketiga hal ini sangat diperlukan untuk tumbuh kembang anak anak “Menurut McCallum, terapi berkuda memiliki tiga manfaat utama, yaitu olahraga, pendidikan dan pengobatan. Ketiga hal ini sangat diperlukan untuk tumbuh kembang anak-anak.
Dijelaskan McCallum, terapi biasa tidak berhasil karena kadang anak sudah antipasti terlebih dahulu terhadap kegiatan terapi. Sedangkan aktivitas berkuda, anak memandangnya sebagai kegiatan bermain yang menyenangkan. Sehingga mereka lebih rileks menjalaninya.
Berkuda bisa memotivasi anak yang memiliki masalah mental dan emosional, serta kendala dalam belajar. Kegiatan ini membantu mereka berkonsentrasi, sabar, dan disiplin tinggi.
Aktivitas berkuda membutuhkan kerjasama antara kuda dan penunggangnya. Saat belajar berkuda, akan tercipta ikatan emosi anak dengan kuda yang dikendarainya.
“Hubungan unik antara kuda dengan pengendaranya membantu mengatasi ketakutan. Justru akan tumbuh rasa saling percaya antara anak dengan kuda, hal inilah yang menjadi terapi emosi mereka,” ujar McCallum.
Untuk anak yang mengalami hambatan fisik, misalnya kaki lumpuh, berkuda adalah cara mereka menikmati kebebasan yang selama ini tidak bisa mereka dapatkan saat berada di atas kursi roda. Duduk di atas kuda juga akan melatih otot kaki mereka sehingga bisa berjalan.
“Saat menunggang kuda, otot-otot pada selangkangan anak akan merasakan sensasi seperti saat berjalan kaki. Hal itu akan mengaktifkan otot-otot kaki sehingga pelan-pelan si anak akan bisa berjalan,” kata McCallum. (aa/vvnws)
Sumber :http://www.voa-islam.net
Tuesday, April 9, 2013
Udang Kecebong Bukan Fosil Hidup
Africa Gomez
Udang Kecebong Eropa, Triops cancriformis, bukanlah fosil hidup seperti yang diduga sebelumnya.
Udang kecebong (Triops cancriformis) secara umum dikenal sebagai fosil hidup karena bentuknya yang sangat mirip dengan nenek moyangnya. Namun, sebuah hasil penelitian terbaru mengungkapkan, ternyata hewan tersebut bukanlah fosil hidup karena usia mereka jauh lebih muda dari nenek moyangnya.
Peneliti menganalisis rangkaian DNA dari semua jenis udang kecebong yang telah teridentifikasi, dan DNA dari kelompok crustaceae seperti kutu air dan udang brine. Hasil penelitian menunjukkan bahwa udang kecebong telah mengalami beberapa kali siklus perluasan evolusi dan kepunahan.
Udang jenis ini tergolong kelompok spesies kriptik, kelompok hewan yang keragaman genetiknya tinggi, tetapi secara penampakan sangat mirip. Penelitian ini mengungkapkan total ada 38 spesies, dan kebanyakan dari spesies tersebut belum banyak tergambarkan.
Karena morfologinya yang sangat mirip, menentukan fosil pada spesies yang tepat pun merupakan satu tantangan tersendiri. Beberapa fosil berusia 250 juta tahun ditetapkan satu spesies dengan Triops cancriformis. Akan tetapi, hasil studi terbaru yang dilakukan Africa Gómez menunjukkan bahwa spesies tersebut baru berevolusi sejak 25 juta tahun lalu.
Oleh sebab itu, penggunaan istilah "fosil hidup" pada kelompok hewan spesies kriptik bisa menimbulkan kesalahpahaman.
"Fosil hidup berevolusi seperti halnya organisme lainnya. Mereka hanya kebetulan mendapat bentuk tubuh yang baik yang bisa bertahan seiring jalannya waktu," ungkap Gómez dalam pernyataannya, sebagaimana dikutip LiveScience pada Selasa (2/4/2013).
"Meski tampilan luar hewan ini sangat mirip dengan fosil kecebong laut dari zaman dinosaurus, DNA dan strategi reproduksi mereka yang relatif tersembunyi telah berevolusi secara konstan," kata Gómez.
Source: sains.kompas.com
Monday, April 8, 2013
Piranha tidak seganas yang diduga
Reputasi piranha sebagai pemangsa yang ganas tidaklah sepenuhnya benar, begitulah pendapat para ilmuwan Inggris.
Ikan yang ditemukan di Sungai Amazon ini digambarkan sebagai ikan pemangsa daging yang secara berkelompok menyerang mangsa dan memakan dagingnya.
Namun para ahli dari Universitas St Andrews, Inggris, mengatakan piranha adalah pemakan daging maupun tumbuhan, dengan makanan utama ikan, tanaman di sekitar, dan serangga.
Tim peneliti mengatakan ikan ini cenderung berkelompok bukan untuk menyerang mangsa namun justru demi mempertahankan diri dari serangan pemangsa lain.
"Sebelumnya diperkirakan bahwa piranha berkelompok untuk membuat mereka memburu mangsanya," kata Professor Anne Magurran dari tim peneliti St Andrew.
"Namun yang kami temukan adalah hal itu merupakan perilaku untuk mempertahankan diri," tambahnya.
Mekanisme pertahanan diri
Piranha bisa mendapat serangan dari ikan pesut, maupun jenis ikan besar lainnya sehingga mereka berkelompok untuk mencegah agar tidak dimangsa.
Saat berkelompok, piranha yang sedang dalam masa reproduksi berada di bagian tengah-tengah sehingga mendapat perlindungan dari piranha di bagian pinggir.
"Pada kedalaman air yang lebih rendah, piranha cenderung membentuk kelompok yang lebih kecil karena lebih banyak ruang untuk menyelamatkan diri dan resiko serangan relatif lebih kecil," tambah Anne Magurran.
Akan tetapi lebih ke dalam, ketika aliran air menjadi semacam danau kecil, kelompok piranha membesar sampai 50 ekor karena ancaman pemangsa juga semakin besar.
Tim peneliti St Andrews ini menghadirkan temuan mereka dalam Pameran Ilmu Pengetahuan Musim Panas di Royal Society di London.
Dalam pameran itu para peneliti juga membawa satu tangki piranha yang bisa disaksikan khlayak.
Source: BBC Indonesia
Mitos dan fakta KELINCI
Maklumat Penyelamatan Kelinci
Kita menginginkan kehidupan kita dan
kehidupan makhluk hidup yang lebih baik. Kelinci adalah hewan purba yang
mesti diselamatkan dari kehidupan kita. Kita tidak ingin melihat
manusia bahagia karena kelinci sementara kelinci sendiri teraniaya dan
bahkan punah sia-sia.
Ada banyak penyebab kematian kelinci
sehingga kelinci yang sekalipun secara alamiah memiliki kemampuan
berpopulasi cepat dan banyak justru semakin langka.
Kematian disebabkan oleh konsumsi tidak
terbukti merisaukan karena pada kenyataannya konsumsi kelinci sangat
rendah dan jikalaupun konsumsi meningkat tidak akan menghabiskan sumber
kelinci. Hal ini disebabkan kematian oleh konsumsi selalu diiringi oleh
tingkat produksi pengelolaan secara baik. Dengan kata lain, kematian
akibat penyembelihan untuk konsumsi akan selalu mempertimbangkan
pengembangbiakan.
Ada banyak masalah dalam pemusnahan
kelinci. Tetapi tulisan ini akan fokus pada kasus yang menonjol di
Indonesia. Untuk menyelematkan kelinci mula-mula kita mesti
memperhatikan beberapa hal ini.
Mitos-mitos kelinci
Mitos: Kelinci bisa tahan dari kematian sekalipun di bawa pergi jauh.
Fakta: terbukti
banyak yang lebih mati ketimbang hidup. Kelinci indukan maupun anakan
sangat rawan stress. Dan stress adalah masalah mendasar yang akan
mengakibatkan pencernaan terganggu dan di situlah benih-benih penyakit
muncul. Kelinci dengan pencernaan yang hanya mengandalkan usus (tanpa
lambung) tidak bisa muntah. Kematian akibat stres sangat banyak. Kelinci
dewasa yang dibawa kendaraan di atas 50 km mesti memperhatikan
perawatan selama perjalanan. Tidak boleh ngebut, pakan harus terjamin
dan tidak dalam kondisi cuaca panas atau dingin, atau terjadi perubahan
cuaca mendadak. Ini sangat berbahaya. Sementara kelinci anakan sangat
rawan kematian pada jarak 20 Km.
Mitos: kelinci
tidak perlu air minum. Kelinci mati jika diberi air minum. Kelinci tak
butuh minum karena sudah cukup mendapatkan minum dari kandungan rumput.
Fakta: setiap
makhluk hidup butuh air minum. Kelinci adalah jenis herbivora yang tidak
akan mencerna secara baik jika tidak didukung air minum. Rumput yang
kandungan airnya mencapai 80 persen air tetap tidak cukup untuk
menunjang kelancaran pencernaan, terlebih rumput kelinci harus
dilayukan. Dalam kondisi layu kandungan air hanya berkisar 15-20 persen.
Pencernaan sangat membutuhkan air, terutama air pegunungan yang masih
steril dari kotoran. Air juga sumber energi untuk mentralisir bakteri
buruk dalam pencernaan. Air memang mengandung bakteri, tetapi selama
bakteri tersebut lancar dalam pencernaan kelinci akan selamat. Sedang
tanpa air kemungkinan saluran pencernaan kelinci terkena
Gastrointestinal (GI) sangat mudah terjadi. Produksi kencing juga
membutuhkan air. Tanpa air minum air kencing akan menyedot gizi dari
makanan. Ini bisa mengakibatkan ginjal. Kelinci tanpa air minum
rata-rata miskin produksi dan mudah stres serta kemampuan daya tubuhnya
menipis dan hanya mampu bertahan hidup di bawah 4 tahun.
Mitos: memegang kelinci yang paling tepat adalah telinganya.
Fakta: telinga
berakar pada bagian kepala yang langsung terhubung ke syaraf. Kelinci
bisa stress dan sakit gawat jika ditarik telinganya. Telinga kelinci
adalah organ paling sensitif, bisa sakit jika diperlakukan kasar, tetapi
sekalipun bisa membuat nikmat kelinci jika dielus-elus secara lembut.
Jangan tarik telinga kelinci.
Mitos: kelinci cukup makan pelet tanpa rumput.
Fakta: sejauh
ini, terutama di Indonesia, pelet khusus untuk kelinci dengan kandungan
serat lebih 17 persen membuktikan tidak mencukupi pemenuhan serat-kasar.
Banyak kasus kelinci makan bulu yang dipelihara orang-orang kota. Itu
membuktikan pasokan serat dari rumput dan sayuran sangat miskin. Di
Amerika Serikat maupun Eropa, Pemelihara kelinci tetap berusaha keras
memberikan rumput asli sekalipun jaminan pakan berbentuk pelet sudah
tergolong bagus. Hal ini karena mereka menyadari bagaimanapun juga
makhluk hidup akan selalu nyaman dengan alam aslinya. Bahkan manusia pun
sekarang semakin menyadari pentingnya keaslian. Tren makanan organic
misalnya, adalah bukti natural dari sisi kehidupan alamiah. Kelinci
tentu lebih bahagia jika diberikan pasokan serat melalui rumput dan
sayuran asli. Pellet sebaiknya didudukkan sebagai pakan pokok pengganti
akar dan umbi-umbian yang biasa dimakan kelinci di hutan.
Mitos: kelinci tidak bisa hidup dalam cuaca panas.
Fakta: di Afrika dan
Timur Tengah dengan cuaca di atas 35 derajat Celsius bisa hidup. Masalah
kematian bukan pada cuaca, tetapi serangkaian penyebab kompleks
lainnya. Pergantian cuaca mendadak hanyalah mendorong salahsatu sebab
buruknya kehidupan kelinci. Jika perubahan cuaca itu lebih dipengaruhi
oleh musim kita bisa mengatasinya dengan rumah kelinci yang sejuk.
Pergantian suhu disebabkan oleh perpindahan kelinci, misalnya dari
pegunungan ke daratan rendah yang panas memang bisa menjadi pemicu
dahaga dan stres. Karena itu kita harus memperhatikan perubahan ini.
Kelinci tetap bisa berbenah diri dan beradaptasi dengan perbedaan suhu
selama kita memperhatikannya secara baik. Suhu panas yang paling
berpengaruh adalah pada libido kelinci. Di atas 30 derajat celsius
kelinci lemah libido sehingga seringkali sulit kawin atau gagal kawin.
Karena itu perkawinan sebaiknya pada jam dingin, antara jam 6-8 pagi,
atau jam 6-8 malam.
(Tulisan ini dipersiapkan untuk edisi
revisi pada buku KELINCI: pemeliharaan secara ilmiah, tepat dan terpadu
(Faiz Manshur). Masih ada banyak serangkaian mitos dan fakta yang belum
dimuat. Naskah ini disumbangkan kepada KKI untuk para pemelihara
kelinci)
Source: http://kelinci.wordpress.com/
Fakta Unik Seputar Sapi
Sapi adalah hewan yang dikenal secara luas, baik sebagai penghasil
daging dan susu, sebagai hewan pekerja, dan bahkan sebagai hewan suci
bagi agama tertentu. Berikut adalah kumpulan fakta-fakta seputar sapi
yang dikumpulkan dari berbagai sumber yang sangat menarik untuk
diketahui
-
Di dunia saat ini terdapat sekitar 920 jenis sapi hasil pengembangbiakan.
-
Sapi mulai didomestifikasi sebagai hewan ternak sejak 5000 tahun yang lalu
-
Masa bunting sapi mirip dengan manusia yaitu sekitar 279 – 290 hari.
-
Jumlah anak sapi yang dilahirkan dalam satu proses kelahiran adalah 1 – 2 ekor anak sapi
-
Ikatan antara induk sapi dengan anaknya sangat kuat dan bahkan terus berlanjut hingga anak sapi dewasa. Di kawanan sapi liar seekor induk bisa merawat anaknya sampai usia 3 tahun.
-
Sapi adakah hewan sosial, dalam kawanan mereka akan berkumpul dengan beberapa anggita kawanan tertentu dan menghindari anggota kawanan lainnya.
-
Sapi dapat hidup selama 15 – 25 tahun, dan bagi sapi yang mempunyai tanduk umurnya dapat diprediksi dengan menghitung jumlah lingkaran di tanduknya
-
Sapi dianggap dewasa sejak umur 2 tahun
-
Sapi tertua sampai saat ini adalah Big Bertha, sapi berjenis Dremon yang sempat merayakan ulang tahun ke 49 sebelum mati 3 bulan kemudian.
-
Sapi menggunakan suara, posisi tubuh, dan ekspresi muka untuk berkomunikasi dengan sapi lainnya
-
Corak pada sapi perah seperti layaknya sidik jari, tidak ada dua sapi yang memiliki corak yang sama.
-
Di tanah berlumpur sapi bisa berlari lebih cepat dari kuda karena kuku kakinya yang melebar sehingga tidak mudah terbenam ke dalam lumpur
-
Sapi bisa menaiki tangga, tapi tidak bisa menuruninya, karena lututnya tidak bisa menekuk secara sempurna.
-
Sapi mempunyai kemampuan melihat hampir 360 derajat dan bisa melihat warna, kecuali merah.
-
Sapi mempunyai empat rongga pencernaan
-
Sapi mempunyai daya penciuman yang sangat tajam dan mampu mencium sesuatu yang berjarak 8 km jauhnya
-
Sapi dapat mendengar suara dengan frekuensi lebih rendah dan lebih tinggi dari yang bisa didengar manusia
-
Sapi mempunyai 32 buah gigi
-
Suhu tubuh sapi rata-rata adalah 38.6 derajat celcius
-
Sapi berdiri dan duduk sekitar 14 kali per hari
-
Seekor sapi perah dapat memproduksi sekitar 200,000 gelas susu sepanjang hidupnya
-
Sapi menghasilkan 90% susu di dunia
-
Seekor sapi perah bernama Robthom Suzet Paddy memegang rekor sebagai penghasil susu terbanyak dalam satu masa laktasi (365 hari) yaitu sebanyak 59,298 lbs (26.954 kg)
-
Seekor sapi perah bernama Cow No. 289 memegang rekor sebagai penghasil susu terbanyak sepanjang hidupnya yaitu sebanyak 465,224 lbs (211.465 kg)
-
Rekor penghasil susu terbanyak per hari dipegang oleh sapi bernama Urbe Blanca dengan 241 lbs (109 kg)
-
Sapi perah dapat menghasilkan air liur seberat 55 kg per hari
-
Seekor sapi seberat 500 kg dapat memproduksi rata-rata 10 ton pupuk kandang setiap tahunnya
-
Seekor sapi rata-rata menghasilkan 15 kg urin setiap harinya
-
Seekor sapi biasa menghabiskan waktu sekitar 6 jam per hari untuk makan dan 8 jam per hari untuk mengunyahnya.
-
Hampir semua sapi mengunyah setidaknya 50 kali per menit
-
Seekor sapi rata-rata menggerakkan rahangnya 40,000 kali dalam sehari
-
Seekor sapi rata-rata minum sebanyak 35 galon (sekitar 140 liter) air per hari
-
Sapi tidak menggigit rumput, melainkan menggunakan lidahnya untuk menariknya.
-
Sapi terbesar di dunia bernama Chili, seekor sapi perah setinggi 2 meter dan berat lebih dari 1 ton
-
Jenis sapi Dexter adalah yang terkecil di dunia dengan tinggi maksimum sekitar 1 meter dan berat maksimum 450 kg untuk jantan dan 350 kg untuk betina
- Di Indonesia seekor sapi seberat 1,2 ton diklaim sebagai hewan kurban terberat di Indonesia akan disembelih pada Idul Adha 10 Dzulhijjah 1430 mendatang. John Eric Kamadjaja, Direktur PT Agro Fauna Kertosari (AFK), perusahaan agribisnis sapi potong yang mengelola lebih dari seribu ekor sapi di Desa Kertosari mengatakan sapi ‘raksasa’ yang akan disembelih pada Idul Adha mendatang adalah maskot dari peternakan sapi potong AFK selama ini. Rencananya, penyembelihan sapi ‘raksasa; ini akan dicatatkan di Museum Rekor Indonesia sebagai ‘Sapi kurban terberat’ di Indonesia.
Sunday, April 7, 2013
Pola Migrasi Hiu Putih Terkait Siklus Kembang Biaknya
Hiu Putih,(Carcharodon carcharias)
Pengamatan selama 3 tahun yang dilakukan Michael Domeier, peneliti sekaligus presiden dari Marine Conservation Science Institute (MCSI), menunjukkan siklus berkembang biak hiu putih betina dewasa ternyata berlangsung selama dua tahun.
Tim peneliti melakukan pengamatan dengan menelusuri jejak penanda yang dipasang di sirip dorsal, pada 4 ekor hiu putih betina dewasa. Penelusuran dilakukan sejak hiu meninggalkan Pulau Guadalupe, Meksiko, yang menjadi tempat perkawinan mereka hingga mereka kembali ke tempat itu, 24 bulan kemudian.
Domeier mengatakan, selama 18 bulan pertama, hiu putih betina berenang sesukanya di lautan, hingga akhirnya mereka sampai di lepas pantai Baja, California untuk melahirkan keturunan mereka. "Selama masa melahirkan di Peninsula Baja, para betina tersebut dengan mudah diketahui oleh para penangkap ikan komersial, membuat mereka berada dalam resiko ditangkap," ujar Domeier kepada OurAmazingPlanet melalui surat elektronik.
"Resiko yang dihadapi bayi hiu putih yang baru lahir lebih besar, karena mereka akan menghabiskan tahun pertama mereka di perairan pesisir. Ukuran mereka yang kecil, membuat mereka jadi lebih mudah ditangkap," katanya Kamis (4/4/2013) lalu.
Pascamelahirkan, hiu putih betina dewasa kembali ke Pulau Guadalupe untuk kembali melakukan perkawinan. Hiu-hiu betina kembali ke pulau tersebut setiap dua tahun, sedangkan hiu jantan datang setiap tahun. Hasil pengamatan Domeier dan timnya telah dipublikasikan dalam jurnal Animal Biotelemetry.
Ikan hiu menjadi perhatian dunia karena populasinya yang terus menurun dan masih tingginya ancaman terhadap mereka akibat kegiatan perburuan. Berbagai penelitian tentang hiu dilakukan guna mengetahui karakteristik biologis, ekologis dan perilaku mereka.
Subscribe to:
Posts (Atom)

